0

wonderful feeling

This last few days have been a great time for me. After quite sometimes, I started opening my facebook page and yahoo messenger again for the first time. Meet many friends there, had a chit-chat about past and future, and suddenly those conversation lightened up my day! =)

I’ve been thinking that all my old friends had ‘deleted’ me from their life, but I think I was wrong! There’s still space in their heart for me, alhamdulillah =)

Today, out of nowhere, I can access YM from my office internet. Another conversation with friends, really made me feel ‘connected’, once again, with them

*mencet tombol ‘like this!’

This evening, I spoke with my ex-supervisor in college by phone and he asked me about my plan pursuing my study. It’s just a question, but I really feel that he really trust me for doing that. “I will, Pak. InsyaAllah. Please help me with your pray (and recommendation letter, perhaps :p)

Please keep your faith in me!

*I guess I should try to connect to the world more often =)

Advertisements
4

on becoming a (real) leader

Saat ini saya sedang menghadapi tantangan menjadi ketua sebuah divisi di kepengurusan IMPACT periode 2010. Anggota divisi saya ini tidak banyak, “hanya” 10 orang. Tetapi mau sedikit atau banyak anggotanya, membangun sebuah tim adalah suatu hal yang harus dilakukan secara serius. Sedari awal saya sudah bertekad untuk menciptakan sebuah tim yang solid dan menjadi seorang pemimpin, bukan hanya sekadar manager dalam tim ini.

Kebetulan saat ini saya sedang merasakan krisis kepemimpinan di departemen tempat saya bekerja. Mohon maaf, tetapi saya merasa pimpinan departemen kami yang baru saat ini kurang pandai dalam meng-encourage anak buahnya. Mungkin karena beliau masih baru. Tetapi yang jelas saya sudah cukup “terpukul” dengan jawaban-jawaban negatif yang muncul terhadap semua harapan yang saya utarakan. Karena itu saya semakin bertekad untuk menjadi pemimpin yang baik!

Dulu, waktu saya ikut LKS (Latihan Kepemimpinan Siswa) di SMA, pemimpin dideskripsikan sebagai orang yang “knows the way, shows the way, and goes the way“. Jadi, ada tiga syarat utama menjadi pemimpin: punya visi apa yang akan ia dan timnya lakukan, punya plan, dan punya metode untuk bekerja bersama timnya. Dan untuk saya, yang terakhir adalah yang paling manantang.

Dari hasil termenung beberapa saat dan berpikir sebagai seorang anggota tim, beberapa hal yang saya inginkan dari pemimpin saya adalah

  1. mampu memotivasi (encouraging) tim; selalu bilang “kamu bisa!” ketika anggota tim menghadapi keputusasaan,  
  2. mampu tegas dalam menghadapi anggota tim; bilang yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Dan mampu memberi keputusan,
  3. mampu menjaga mood diri sendiri dan anggota tim yang lain; mampu mengatur kondisi emosional diri dan berusaha membangun mood yang baik bagi anggota tim,
  4. Punya visi dan plan; ini sesuai dengan poin ‘knows the way, shows the way’ diatas. Jadi dia tahu kemana timnya akan ia bawa dan ia mampu mem-breakdown visi-nya menjadi langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan (ini managerial point-nya seorang leader).
  5. mencoba mengenali potensi seluruh anggota timnya dan memberikan peran yang tepat kepada anggota timnya; menggali lebih dalam potensi anggota timnya, tidak sekadar melihat kulit luarnya. Saya percaya 100%, tiap orang punya keunikan masing-masing dan pasti punya manfaat didalam tim.

Poin-poin inilah yang nanti harus saya laksanakan kalau jadi pemimpin. It’s a tough job, but I’m sure I can do it insyaAllah. At least I will learn something from the process.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis tentang kepemimpinan-stuffs ini. Mungkin lain kali akan disambung.. ^^

8

Perahu Kertas – review

Pas lagi browsing-browsing BukuKita.com, gw tertarik pada salah satu judul buku yang yang ada di deretan “buku terlaris”. Yup, perahu kertas. Judulnya yang agak “childish” membuat gw membayangkan sutu bacaan yang ringan, segar, bersemangat. Dan melihat pengarangnya, Dewi Lestari aka Dee, gw yakin bahwa buku ini ga akan jadi “sekadar novel” doang.

Sejak baca buku Dee yang “Filosopi Kopi”, gw langsung jatuh cinta dengan cara Dee bercerita (gw ga berani baca yang Supernova. hihi). Gaya bahasanya lugas, pakai bahasa yang baik tapi ga kaku. Metafornya tepat sasaran. And she proves that — again — in Perahu Kertas =)

Cover buku Perahu Kertas

'Perahu Kertas by Dee"

 

Bercerita tentang Kugy sang juru (dan penulis) dongeng dan Keenan sang pelukis dengan mimpi-mimpi mereka. Betapa mereka begitu yakin akan cita-cita mereka. Walaupun harus “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”. 

Pertama, semua cerita mengenai mimpi, cita-cita, memang selalu menggugah, inspiratif dan ga pernah basi. Mengapa? karena semua orang pasti memiliki mimpi atau cita-cita (pasti, walaupun sekecil apapun. Ayo ngaku!! Hehe). Tapi ga semua orang berani (dan berkesempatan) mengejar dan mewujudkan mimpi tersebut. Dan setiap cerita mengenai perjuangan untuk mengejar mimpi itu selalu menarik untuk disimak. Menggerakkan “hasrat mimpi” kita sendiri yang mungkin tidak (atau belum bisa terwujudkan sehingga membuat hati kita jadi termotivasi.

*fenomena ini juga yang terjadi di Tetralogi laskar Pelangi, gw rasa*

Cerita ini ringan, sehari-hari banget, tapi bukan berarti dangkal — tolong jangan bandingkan dengan cheeklit-cheeklit itu ya. Di dalamnya ada inspirasi, di dalamnya ada mimpi =)

Kedua, alur ceritanya yang mengkuti kehidupan sang tokoh utama (Kugy dan Keenan) membuat gw merasa dekat dengan para tokohnya — apalagi setting-nya banyak di Bandung. hehehe. Akibatnya, gw jadi ikutan terpengaruh oleh dinamika ceritanya. Sama kaya dulu waktu baca komik Harlem Beat yang gw dan saudara-saudara gw suka banget. Si tokohnya sedih kita nangis, dan scene lucu selalu berhasil bikin kita terpingkal-pingkal.

Dan lebih oke-nya lagi, Dee membuat banyak istilah-istilah yang merepresentasikan dunia Kugy dan Keenan, diluar dunia nyata yang biasa. Ketika istilah-istilah itu dimunculkan, kita langsung “nyambung” dan merasa berada satu dunia dengan di tokohnya itu. Istilah-istilah itu antara lain: Alien, Radar Neptunus, dan tentu saja… Perahu Kertas itu sendiri.

Cerita yang kaya gitu itu yang menurut gw bagus, yang bisa membuat si pembacanya “terhanyut” =)

Ditunggu karya bagus lainnya, Dee =)

Info tambahan: gw namatin buku 444 halaman ini ga nyampe sehari, hari kerja pula (kasian suami gw yang gw cuekin di bis. Maaf ya, sayang..). Sepertinya akan mencoba membaca karya-karya Dee yang lain juga =)