on becoming a (real) leader

Saat ini saya sedang menghadapi tantangan menjadi ketua sebuah divisi di kepengurusan IMPACT periode 2010. Anggota divisi saya ini tidak banyak, “hanya” 10 orang. Tetapi mau sedikit atau banyak anggotanya, membangun sebuah tim adalah suatu hal yang harus dilakukan secara serius. Sedari awal saya sudah bertekad untuk menciptakan sebuah tim yang solid dan menjadi seorang pemimpin, bukan hanya sekadar manager dalam tim ini.

Kebetulan saat ini saya sedang merasakan krisis kepemimpinan di departemen tempat saya bekerja. Mohon maaf, tetapi saya merasa pimpinan departemen kami yang baru saat ini kurang pandai dalam meng-encourage anak buahnya. Mungkin karena beliau masih baru. Tetapi yang jelas saya sudah cukup “terpukul” dengan jawaban-jawaban negatif yang muncul terhadap semua harapan yang saya utarakan. Karena itu saya semakin bertekad untuk menjadi pemimpin yang baik!

Dulu, waktu saya ikut LKS (Latihan Kepemimpinan Siswa) di SMA, pemimpin dideskripsikan sebagai orang yang “knows the way, shows the way, and goes the way“. Jadi, ada tiga syarat utama menjadi pemimpin: punya visi apa yang akan ia dan timnya lakukan, punya plan, dan punya metode untuk bekerja bersama timnya. Dan untuk saya, yang terakhir adalah yang paling manantang.

Dari hasil termenung beberapa saat dan berpikir sebagai seorang anggota tim, beberapa hal yang saya inginkan dari pemimpin saya adalah

  1. mampu memotivasi (encouraging) tim; selalu bilang “kamu bisa!” ketika anggota tim menghadapi keputusasaan,  
  2. mampu tegas dalam menghadapi anggota tim; bilang yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Dan mampu memberi keputusan,
  3. mampu menjaga mood diri sendiri dan anggota tim yang lain; mampu mengatur kondisi emosional diri dan berusaha membangun mood yang baik bagi anggota tim,
  4. Punya visi dan plan; ini sesuai dengan poin ‘knows the way, shows the way’ diatas. Jadi dia tahu kemana timnya akan ia bawa dan ia mampu mem-breakdown visi-nya menjadi langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan (ini managerial point-nya seorang leader).
  5. mencoba mengenali potensi seluruh anggota timnya dan memberikan peran yang tepat kepada anggota timnya; menggali lebih dalam potensi anggota timnya, tidak sekadar melihat kulit luarnya. Saya percaya 100%, tiap orang punya keunikan masing-masing dan pasti punya manfaat didalam tim.

Poin-poin inilah yang nanti harus saya laksanakan kalau jadi pemimpin. It’s a tough job, but I’m sure I can do it insyaAllah. At least I will learn something from the process.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis tentang kepemimpinan-stuffs ini. Mungkin lain kali akan disambung.. ^^

4 thoughts on “on becoming a (real) leader

  1. “jawaban-jawaban negatif yang muncul terhadap semua harapan yang saya utarakan”

    emangnya dibilangin apa gin? anggap aja sebagai challenge…malah seru hehe harus dibuktikan kalo loe bisa!😀
    (lagi positif mode:on* nih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s