simple

petikan dari novel Gading-gading Ganesha 

                “Kenapa tidak melanjutkan ke universitas?” tanya Slamet untuk sekadar memulai pembicaraan. 

            Zulaeha tersenyum, tapi tetap menunduk sambil merenda. “Insya Allah tahun depan, Mas. Ayah minta Eha untuk di kampung dulu sekarang.” 

                 “Mengapa harus tunggu tahun depan?”

                 “Itu kehendak Ayah, Mas,” Zulaeha masih menunduk.

                 “Kenapa kamu terlalu menurut kata orangtua? Kalau itu baik menurutmu, kamu harus berusaha untuk berkata ‘tidak’ kepada orangtua. Ini zaman wanita bebas menentukan pilihannya.”

                 “Kalau Eha ndak nurut sama orangtua, sama siapa lagi harus nurut? Karena Eha hanya tahu dari guru di sekolah dan juga guru mengaji bahwa wanitu itu harus menurut apa kata orangtua. Setelah dia menikah, maka dia harus menurut kepada suaminya.”

                 “Lantas, apaabila orangtua itu salah dan atau suami itu salah, apakah harus dituruti?” tanya Slamet dengan tangkas.

                 “Kita hanya diminta bersabar bila sikap orangtua atau suami salah.”

                 “Apakah sabar itu dapat mengubah sikap orangtua atau suami?”

                 “Kita tidak bisa mengubah sikap manusia, kecuali Allah. Tugas kita adalah bersabar, Mas.”

                 “Andai karena kesabaran itu kamu menderita, apakah kamu tetap sabar?”

                 “Tetap, Mas.”

            ….

                 “Lantas apa sebetulnya yang kamu harap dan cari dari hidup ini?”

                 Ridha orangtua adalah ridha Allah. Ridha suami adalalah ridha Allah. Mendapatkan ridha Allah memang tidak mudah. Tentu akan ada cobaan. Akal kita tidak akan mampu mencernanya.”

                 “Walau karena itu kamu menderita?”

                 Penderitaan itu hanya ada kalau kita berharap banyak selain kepada Allah. Kalau kita berharap hanya kepada Allah, maka penderitaan itu tidak akan pernah ada.”

                 “Yakin, kamu?”

                 “Yakin, Mas.”

  

Pemikiran yang sangat sederhana (dan tidak salah).

Tapi kok saya ga bisa ya berpikir se-simple itu?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s