Perahu Kertas – review

Pas lagi browsing-browsing BukuKita.com, gw tertarik pada salah satu judul buku yang yang ada di deretan “buku terlaris”. Yup, perahu kertas. Judulnya yang agak “childish” membuat gw membayangkan sutu bacaan yang ringan, segar, bersemangat. Dan melihat pengarangnya, Dewi Lestari aka Dee, gw yakin bahwa buku ini ga akan jadi “sekadar novel” doang.

Sejak baca buku Dee yang “Filosopi Kopi”, gw langsung jatuh cinta dengan cara Dee bercerita (gw ga berani baca yang Supernova. hihi). Gaya bahasanya lugas, pakai bahasa yang baik tapi ga kaku. Metafornya tepat sasaran. And she proves that — again — in Perahu Kertas =)

Cover buku Perahu Kertas

'Perahu Kertas by Dee"

 

Bercerita tentang Kugy sang juru (dan penulis) dongeng dan Keenan sang pelukis dengan mimpi-mimpi mereka. Betapa mereka begitu yakin akan cita-cita mereka. Walaupun harus “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”. 

Pertama, semua cerita mengenai mimpi, cita-cita, memang selalu menggugah, inspiratif dan ga pernah basi. Mengapa? karena semua orang pasti memiliki mimpi atau cita-cita (pasti, walaupun sekecil apapun. Ayo ngaku!! Hehe). Tapi ga semua orang berani (dan berkesempatan) mengejar dan mewujudkan mimpi tersebut. Dan setiap cerita mengenai perjuangan untuk mengejar mimpi itu selalu menarik untuk disimak. Menggerakkan “hasrat mimpi” kita sendiri yang mungkin tidak (atau belum bisa terwujudkan sehingga membuat hati kita jadi termotivasi.

*fenomena ini juga yang terjadi di Tetralogi laskar Pelangi, gw rasa*

Cerita ini ringan, sehari-hari banget, tapi bukan berarti dangkal — tolong jangan bandingkan dengan cheeklit-cheeklit itu ya. Di dalamnya ada inspirasi, di dalamnya ada mimpi =)

Kedua, alur ceritanya yang mengkuti kehidupan sang tokoh utama (Kugy dan Keenan) membuat gw merasa dekat dengan para tokohnya — apalagi setting-nya banyak di Bandung. hehehe. Akibatnya, gw jadi ikutan terpengaruh oleh dinamika ceritanya. Sama kaya dulu waktu baca komik Harlem Beat yang gw dan saudara-saudara gw suka banget. Si tokohnya sedih kita nangis, dan scene lucu selalu berhasil bikin kita terpingkal-pingkal.

Dan lebih oke-nya lagi, Dee membuat banyak istilah-istilah yang merepresentasikan dunia Kugy dan Keenan, diluar dunia nyata yang biasa. Ketika istilah-istilah itu dimunculkan, kita langsung “nyambung” dan merasa berada satu dunia dengan di tokohnya itu. Istilah-istilah itu antara lain: Alien, Radar Neptunus, dan tentu saja… Perahu Kertas itu sendiri.

Cerita yang kaya gitu itu yang menurut gw bagus, yang bisa membuat si pembacanya “terhanyut” =)

Ditunggu karya bagus lainnya, Dee =)

Info tambahan: gw namatin buku 444 halaman ini ga nyampe sehari, hari kerja pula (kasian suami gw yang gw cuekin di bis. Maaf ya, sayang..). Sepertinya akan mencoba membaca karya-karya Dee yang lain juga =)

8 thoughts on “Perahu Kertas – review

  1. numpang lewat ahh…

    saya jg baca novel tebal itu dalam sehari semalam..
    tapi rugi rasanya klo suka novel dee, tp ga baca supernova the series..
    hehehee..
    btw, perahu kertas itu memang tentang mimpi..tp ada satu hal penting yg ingin dee sampaikan..bahwa jodoh itu di tangan Tuhan (ehh, basi ya..)..pokonamah, dgn siapapun kita dekat..kita ga pernah tau bakal jodoh sama siapa..

    eh gin, imelmu apa ya..udh lama ga ngobrol sama asrama2003 nih..siapa tau bisa bikin partai..😀

  2. @ angin
    Kenapa dr sudut pandang Kugy? ada kesamaan “nasib” emangnya, wind? Hihi..
    btw, di Jepang ada yang jual buku2 Indonesia juga kah?

  3. wah, ternyata udah baca ini sejak dulu.., haha, aku baru aja beres. kalo liat cerita keseluruhan emang kayak yg dikomen2 dibawah, tapi kalo ikut ceritanya dari satu orang aja, dari sudut pandang kugy misalnya.. hmm mungkin lain jadinya, haha (dan itu yg saya lakukan, hidup kugy!!)

  4. nice review Ghin
    I totally agree with your comment
    ehm … u must read Supernova (yg mana aja deh)
    menurut gue itulah masterpiece dari Dee (dan masih berharap2 kapan lanjutannya diterbitkan)

  5. waahh… jadi pengen baca juga..huhu, ntar mau beli deh klo di jkt…
    aku juga suka buku2 Dee, malah sukanya yg Trilogi Supernova-nya.. knp Ghina gk berani bacanya?😀 .. emang agak nyentrik sih, tapi bahasa kerumitannya ‘tinggi’..

  6. ah, betul Put. Gw setuju komen lo ttg “kepasrahan” itu.
    Tapi menurut gw, justru disitu letak sisi humanis novel ini. Mereka ga melulu ngoyo jadi orang yang setengah mati merem-melek ngewujudin mimpi (kaya Ikal di Laskar Pelangi).
    Tetep aja, kalo gw pikirin, nemuin orang macem si Kugy dan Keenan ini udah susah di dunia (setidaknya menurut pikiran gw. apa gw-nya yang terlalu pregmatis ya??). Kugy, dia udah punya posisi oke di AdVocado, dan akhirnya rela melepaskan itu utk ngewujudin mimpi jd penulis dongeng. Keenan, kalo gw jadi dia yang punya IP segitu, gw pasti nerusin kuliah dan kerja di Accenture atau apa (yang butuh IP gede) trus “meminggirkan” cita-cita gw jd pelukis, paling gw jadiin hobi aja.

    Tapi tiap cerita pasti ada kekurangannya. Apalagi ini novel ngebut 2 bulan. Mungkin gw aja yang masih berada dalam “aura sihir”nya Perahu Kertas ampe sekarang. Hihihi…

  7. yooo…. sama, suka juga buku ini. Baca beres satu hari full, pas hari minggu tapi, dan untungnya belum punya suami buat dicuekin :p

    Hampir setuju dengan semua komennya ghin, cuman ada satu hal yang gw sadari jd kekurangan Perahu Kertas. Kemaren ngobrolin novel ini bareng temen kos (dia baru beres baca), dan kita berdua baru sadar kalo kedua tokoh utamanya (Kugy dan Keenan) terlalu ‘go with the flow’, kemana aliran sungai membawa… mereka pasrah2 aja. Kesan ‘fight to the death’ nya kagak ada gitu. Dan terkait cinta2annya Kugy dan Keenan pun kalo masing2 pasangan mereka gak merelakan mereka, pasti mereka gak jadi, dan tetep aja saling nyiksa diri gara2 saling mikirin & berharap satu sama lain. Bagian itunya bikin gak sreg deh…

    Tapi buku ini tetep worthed untuk dibaca…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s