jadi ibu-ibu

Entah dari mana aturannya, tapi wanita yang sudah menikah (walaupun belum punya anak) akan dijuluki “ibu-ibu” oleh orang disekitarnya. The same thing happened to me (padahal kan baru 22, hiks.. :p). Well, it doesn’t bother me at all, sebenernya =) Memang setelah nikah, ada beberapa pemikiran yang berbeda (karena kebutuhannya pun berbeda, tentu saja). Dulu yang dipikirin hanya diri sendiri, sekarang mikir bersama tentang bersama juga.

Tadi pas lunch time, kebetulan suami ngajak lunch bareng. Tapi selesei lunch, masih ada setengah jam waktu istirahat yang tersisa. Tadinya mau ngajak suami nongkrong bareng (karena suntuk di dalem kantor terus), tapi sayang suami harus cepet-cepet balik ke kantor. Yowis, tak ada pilihan lain: balik ke kantor deh (masa’ mau nongkrong sendirian -_-)

Biasanya kalau waktu istirahat masih tersisa, saya akan kembali ke kubikal yang sudah dipenuhi temen-temen kerja lain. Maklum, posisi kubikal yang super strategis rawan dijadikan tempat tongkrongan bersama. Hihi.. (well, it’s calledPodjok Asik ” :p). Tapi rasanya hari ini ingin suasana baru =) Jadilah saya menuju ke pantry untuk sekadar ngobrol dan menghabiskan rujak =D

Di pantry saya bertemu dengan Mbak S dari bagian Civil-Structure yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Namanya juga ibu-ibu ketemu ibu-ibu, ya ngobrol lah ujungnya. Hehe.. Mulai deh ngobrol ngalor-ngidul tentang PRT, masak-masak, resep….sampe ke pohon mangga (weleh!). Seru, sampe lewat jam istirahat malahan =D.

Yang baru saya sadari setelahnya adalah, ternyata apa yang kami obrolkan itu sangat berguna untuk saya! =) Saya mulai menyadari, diakui atau tidak, saat ini saya bulai berpredikat “ibu-ibu” dan satu-satunya saya bisa bertanya dan berbagi cerita adalah pada ibu-ibu juga. Misalnya, “gimana ya cara bagi waktu supaya masih tetep sempet masak untuk keluarga pas pulang kerja?”, atau “cari pembantu yang oke gimana ya?”.

Intinyaaa….. hari ini saya cukup termotivasi oleh “obrolan pantry” tadi siang. Saya kagum dengan ibu-ibu wanita karier  yang masih sempat ngurusin anak, masak sarapan, meng-kreasi-kan resep, nyiapin bekel untuk anak-anaknya, ngurusin pembantu dan lain-lain, sementara saya yang ga banyak kerjaannya ini suka males masak kalo pulang kerja :p

Kalau mereka bisa, saya pun pasti bisa, insyaAllah =)

PS: walaupun ibu-ibu tapi berjiwa muda. hehehehe..

3 thoughts on “jadi ibu-ibu

  1. hehe… gitu ya, Ghin..😀
    kyknya skrg aku msh blum ‘pantas’ deh jadi ibu2, hohoho… ^^ (sok muda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s