guru: inspirator

Hari ini saya baru ingat kalau tanggal 25 November kemarin adalah hari guru. Itu juga diingatkan oleh spanduk “Selamat Hari Guru” milik salah satu partai yang terpampang di salah satu sudut luar kampus.

Bicara tentang guru, saya selalu terkenang pada salah seorang guru paling berkesan yang pernah saya miliki. Mungkin ia tidak se-dramatis Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi, tetapi ia cukup nyata untuk menjadi inspirator saya.

Beliau adalah guru kelas saya di kelas 6 SDN Pakuwon 1, Sumedang. Saya tidak ingat nama lengkapnya, tetapi kami biasa memanggil beliau Pak Totom. Pak Totom adalah guru kelas 6 sekaligus pengajar matematika kami. Karena sejak SD saya menyukai matematika, maka guru mata pelajaran yang satu ini juga selalu menjadi salah satu guru paling berkesan untuk saya.

Rasanya, sulit menjadi seorang wali kelas 6 karena punya tanggung jawab besar mengantarkan anak-anak didiknya menewati ujian kelulusan. Ditambah lagi, mata pelajaran yang beliau ajar adalah matematika, momok bagi mayoritas siswa di Indonesia. Beliau harus putar otak ekstra keras untuk mengajarkan matematika di “last minute” kami bersekolah di SD. Alhasil, beliau mencoba menanamkan kecintaan anak-anak didiknya terhadap matematika dengan memberikan latihan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Plus juga melatih dan memberikan tips ‘ trick berhitung cepat.

Tapi karena jam pelajaran sudah cukup padat bagi kelas 6, beliau memberikan pemantapan tersebut di pagi hari sebelum jam masuk sekolah. Kami diminta untuk hadir pukul 6 pagi untuk berlatih matematika. Bentuknya jadi seperti les tambahan, tetapi beliau sama sekali tidak meminta biaya untuk pelajaran tambahan tersebut.

Aku dan kakakku menyambut antusias kegiatan tersebut. Ditambah lagi, kediaman kami persis di sebelah sekolah. Jadi masuk sekolah lebih awal rasanya tidak terlalu memberatkan kami. Hehe..

Minggu-minggu pertama pelaksanaan pelajaran tambahan berjalan lancar. Banyak siswa yang hadir walaupun tidak semuanya. Pak Totom selalu hadir sebelum kami semua datang. Artinya, beliau datang sebelum jam 6 dengan sepedanya. Beliau menyediakan presensi untuk mencatat waktu kehadiran kami. Dan siswa yang hadir paling pagi akan medapat hadiah kecil darinya, entah pensil, wafer coklat, buku tulis, dll. Pelajaran matematikapun terasa semakin menyenangkan bagiku =)

Namun kemudian, anak-anak mulai terlambat hadir. Anak-anak mulai malas ke sekolah pagi-pagi. Dilanjutkan dengan berkurangnya jumlah siswa yang menghadiri kelas pagi tersebut. Beliau pernah mengeluhkan hal ini kepada kami suatu hari. Dan dengan santainya teman-temanku menjawab “malas” terhadap keluhan itu.

Saya kecewa berat terhadap teman-teman. Mengapa mereka tidak menghargai kerja keras Pak Totom dalam memberikan ilmu tanpa pamrih, bahkan seringkali memberi. Padahal ilmu yang beliau berikan jelas-jelas akan bermahfaat bagi kami: saya mulai merasa matematika semakin dekat dengan kehidupan, karena soal-soal latihan yang diberikan mayoritas diangkat dari kehidupan sehari-hari.

Sampai pada suatu hari, hanya saya, kakak, dan seorang teman lain yang menghadiri kelas pagi. Beliaupun akhirnya menyerah dan mengumumkan bahwa hari itu akan menjadi kelas pagi terakhir bagi kami =(

Bagi saya, Pak Totom adalah sosok guru yang ideal. Guru yang tahu mengenai pentingnya pengetahuan dan mau membaginya tanpa pamrih (tidak seperti guru-guru yang memberikan les komersil itu). Sepulang mengajar, beliau bersepeda untuk bekerja sambilan di sebuah bengkel (jadi ingat ada guru yang kerja sampingan sebagai pemulung). Beliau juga yang menginspirasi saya sampai bercita-cita menjadi guru kelas 6 SD (sampai sekarang masih pengen =D).

Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak guru
Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir, di dalam hatiku
S’bagai prasasti t’rima kasihku, ‘tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan Bangsa tanpa tanda jasa

2 thoughts on “guru: inspirator

  1. jadi inget…
    dulu aku pernah di marahin guru, gara2 gak bisa ngerjain soal..
    tapi justru gara2 di marahi itu, sejak itu aku belajar yang bener.. sampe akhirnya alhamdulillah aku bisa sampai di universitas yang bisa aku banggakan..

    aku yakin..
    guru yang dulu memarahi aku dulu itu, akan bangga juga dengan apa yang telah aku capai..🙂

  2. Pingback: guru: inspirator | Bloggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s