Keputusan sementara: Taufikurrahman

Haha… judul postingan ini sengaja saya buat agak provokatif (menyangkut pilkada Bandung yang lagi hot) biar kalian-kalian pada baca😀

Sebenarnya, saya cuma mau cerita tentang keadaan Kota Bandung sekarang…

Hari ini saya pp (pulang pergi) Dago-Cibaduyut-Dago. Ngapain? membantu seorang teteh yang akan menikah menyelesaikan souvenir hari-H. Sebagai alat transportasi, saya memilih bus DAMRI Dago-Leuwipanjang. Walaupun saya ragu bus tersebut merupakan alat transportasi tercepat, toh akhirnya saya pakai juga karena murah meriah😀

Alhamdulillah, bus tidak penuh sesak. Mungkin karena sedang jam kantor. Saya dapat tempat duudk yang lumayan nyaman dan perjalanan menuju Cibaduyut cukup cepat. Namun, pada perjalanan pulang, keadaan bus tidak sama. Bus yang saya naiki cukup sesak (alhamdulillah saya masih dapat tempat duduk karena naik dari terminal leuwipanjang) dan beberapa orang terpaksa berdiri. Diantara mereka, terdapat seorang wanita.

Saya kagum dengan kondektur bus tersebut, yang berusaha mencarikan tempat duduk dan memanggil wanita muda itu untuk duduk di bangku yang kosong. “Wanita diperlakukan dengan baik“, pikirku, alhamdulillah🙂

Kejadian serupa pernah saya alami ketika terakhir kali ke Jakarta untuk menyerahkan aplikasi beasiswa. Saat itu, saya berada di busway yang penuh sesak. Setelah beberapa perhentian, alhamdulillah saya dapat tempat duduk. Di salah satu halte, masuklah dua orang ibu dan anaknya. Mereka terpaksa berdiri karena tidak ada tempat duduk yang kosong. Beyond my expectation, si kondektur meminta dua orang pria untuk berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada dua orang ibu tersebuh. Subhanalllah... =)

Pandangan saya tentang perlakuan terhadap wanita akhirnya sedikit terobati. Pasalnya, sebelumnya saya sering sekali melihat pria yang tidak tahu malu duduk dengan santainya ketika ada wanita yang berdiri kesusahan di transportasi publik =( (saya harap kalian bukan salah satu darinya)

Saya juga melihat service sebagai salah satu aspek yang patut disoroti. TIndakan kedua kondektur di atas, tentunya ada andil dari perusahaan penyedia jasa. Saya melihat, semakin lama, sense of service perusahaan jasa di Indonesia semakin baik. Contoh: pelayanan di kereta, busway, travel, dll. Mungkin ada aspek persaingan di sana yang membuat perusahaan-perusahaan tersebut menaikkan kualitasnya. Alhamdulillah…

Cerita lain…

Hmmm……paling asyik memang, bubuk di bis, sambil mendengarkan pengamen (apalagi kalau enakeun nyanyinya ^^) dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Baik ke arah jalan maupun di dalam bis. Di luar jalan, bisa kita lihat berbagai aktivitas manusia, kesumpekan kota, tempat menarik yang belum pernah dikunjungi, tukang jualan buah (di tegallege :D), dan lain-lain. DI dalam bis, kita bisa memperhatikan berbagai perilaku manusia: yang lagin ngamen, baca majalah, tidur, ngobrol, dll.

Yang tadi jadi perhatian saya adalah mengenai kesesakan dalam bis. Membayangkan bahwa banyak orang berada dalam posisi itu setiap hari: harus berdiri, kepanasan, bau, dll… (Alhamdulillah, saya jadi bersyukur atas segala kemudahan yang Allah swt berikan. Dan kalian, mahasiswa, jangan bilang care sama rakyat kalo kalian cuma bisa tereak-tereak tanpa pernah ngerasain apa yang rakyat rasain. Yang kemana-mana ada mobil, ngga pernah ngerasain kendaraan umum). Somehow, saya jadi merasa, saya ingiiiiiinnnn sekali kota ini, tempat tingga sementara saya, menjadi kota yang lebih baik.

Berhubung lagi suasana pilwalkot, saya jadi mikir-mikir, calon mana yang saya harus pilih untuk mewujudkan keinginan saya. Dari tiga pasangan yang ada, saya meng-klaim diri saya mengetahui dua calon: Dada Rosada dan Taufikurrahman. Haha….mengetahui yang sangat dangkal sih… Tapi gapapalah. Calon ketiga, saya sama sekali belum tahu apa-apa.

So, saya jadi membandingkan dua calon ini…

Pak Dada: tau pertama kali saat sidang terbuka angkatan 2004. Seketika itu juga saya jadi ilfil, karena pembawaannya yang sama sekali ga wibawa, dan ga berkesan intelek. Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa saat itu dijawab dengan sangat tidak memuaskan. Kedua, dari pengalamnannya memimpin, saya ga melihat ada perubahan sistem yang lebih baik. Masalah sampah aja ga bisa diatasi. Sori Pak, saya terpaksa bilang gini, walaupun saya Bapak alumni SMA 3, sama kaya saya…

Pak Taufik: Dosen ITB, pernah interaksi di acara Salman. At least, yang saya harapkan dari Bapak ini adalah kemampuan intelektual dan spiritualnya (kalo Pak Arry masuk bursa, mungkin Pak Arry yang saya pilih). Karena beliau pintar (doktor gt loh), saya harap beliau cukup pintar membedakan antara yang baik dan buruk dan membawa perbaikan bagi kota Bandung.

Entahlah….tapi sementara ini, keputusan saya adalah akan memilih Pak Taufik dalam pilwalkot nanti (dapet kartu pemilih ga, ya? saya kan punya KTP Bandung, harusnya dapet….). Setidaknya, saya merasa, Pak Taufik lebih punya visi “Mau dibawa kemana Bandung kita ini”. Wallahu ‘alam.


PS: postingan ini ditulis oleh seorang nonpartai, yang bukan simpatisan mana-mana, yang lagi nyari orang terbaik buat kota yang sangat saya cintai ini..

3 thoughts on “Keputusan sementara: Taufikurrahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s