Etika

Secara sederhana, menurut definisi saya sendiri, etika merupakan suatu hal yang mengajarkan tata cara melakukan sesuatu. Bukan tata cara praktis, tetapi lebih ke tata cara dalam hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Beberapa hari ini, hal etika ini melekat terus di benak saya. Alhamdulillah kesampaian juga untuk menulis di blog untuk sharing apa yang ada di pikiran saya.

Menurut saya, semua hal yang kita lakukan, ada etikanya. Dan etika ini merupakan suatu konvensi (hukum tidak tertulis) yang dibentuk oleh masyarakat atau komunitas tertentu.

Terlebih dahulu, saya akan sharing beberapa hal yang membuat saya teringat pada kata ini🙂

Etika masuk ke rumah orang. Hmmm…kalau ini sebenarnya bukan konvensi lagi, tetapi sudah ada di dalam hukum tertulis. Kasusnya, kira-kira satu minggu yang lalu, rumah saya di Bekasi Utara kebobolan. Belakangan, ketika saya sudah pulang, saya tahu bahwa tidak ada barang yang hilang di rumah. Hanya ada “pesan” yang ditulis dengan menggunakan spidol di atas taplak meja makan kami oleh si pembobol pintu dan jendela rumah kami

Bu Tina,

Tadi malam di kampung ada maling

Salam,

****

What kind of message it was?

Setelah diselidiki, ternyata **** ini hanya seorang anak kecil berusia sekitar 7-8 tahun. Hah? mana mungkin anak usia segitu membobol pintu dan dua jendela yang sepertinya menggunakan linggis. Sepertinya ada orang lain yang ada di belakang hal ini.

Ketika mengobrol, mama bercerita padaku, ternyata tetangga kami di bagian belakang rumah sudah beberapa kali masuk ke rumah tanpa izin, tapi tidak sampai membobol rumah. Halaman belakang rumah kami yang penuh dengan pohon buah-buahan ternyata menarik perhatian mereka. Seringkali, ketika ada mangga atau nangka berbuah, mereka manjat pagar belakang rumah kami, dan mengambilnya tanpa izin. “Pagi-pagi mama sudah lihat daun-daun pohon mangga berserakan di mana-mana. Mangganya sudah hilang semua”, kata mama.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini tidak pernah diajari etika masuk ke rumah orang lain?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS An Nuur : 27)

Etika menatap orang (?). Hal ini terpikir ketika saya pulang dari Cimahi beberapa hari yang lalu. Saat itu, saya naik angkot Sadang serang – Caringin di daerah Rajawali. Ketika naik, ada seorang ibu yang menatap saya dengan lekat. Dan ia mengulangi tatapannya dari ujung jilbab sampai ujung kaki. Saya sampai merasa tidak enak. “Is it something wrong with me?” saya bertanya-tanya. Tetapi, ternyata, ia berlaku demikian tidak pada saya saja. Semua orang yang naik angkot dipandanginya dengan tatapan seperti itu, yang saya lihat juga membuat mereka tidak nyaman.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana seharusnya etika dalam memandang orang lain?

Etika meminjam barang milik orang lain. Hal ini lekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, kasus ini saya temui ketika saya mulai masuk ke asrama. Selama saya tinggal di rumah tante, walaupun saudara, kami terbiasa meminta izin ketika meminjam barang maupun masuk ke kamar yang bukan milik kita. Sehingga, saya sempat kaget ketika barang saya dipinjam tanpa izin di asrama😀 tiba-tiba gelas, sendal, buku-buku saya berpindah tempat tanpa saya ketahui. Malah, saya menemukan gelas saya sudah tidak bernyawa (pecah maksudnya), tanpa saya pernah merasa dimintai pinjam.

Saya bertanya-tanya, bagaimana seharusnya etika terhadap barang milik orang lain?

Ya, tiga kasus di atas sepertinya cukup. Banyak orang berpendapat bahwa masalah etika itu relatif, tergantung masyarakat di sekitarnya. Memang benar, karena etika dibentuk berdasarkan konvensi masyarakat. Namun, ada nilai-nilai universal yang saya rasa berlaku bagi semua masyarakat. Dan islam mengatur nilai-nilai universal tersebut.

Btw, dari ketiga kasus tersebut, saya merasakan sulitnya berinteraksi dengan orang yang memiliki nilai berbeda dengan diri kita. It’s frustrating sometimes. Ketika kita berpikir A, tetapi orang lain berpikir B mengenai suatu hal, karena perbedaan kebiasaan.

Dari kasus di atas, mungkin orang-orang yang saya hadapi memilik pandangan berbeda tentang etika masuk ke rumah orang lain, menatap orang, dan meinjam barang orang lain. Yang saya yakini, hal itu semua berawal dari pola asuh di keluarga sejak kecil.

Semoga saya bisa menjadi orang tua yang mengasuh anak-anak saya dengan baik kelak.. Amiin….

2 thoughts on “Etika

  1. yg terakhir cukup menarik, tentang etika minjem barang orang…

    kadang memang kultur dormitori kita yg membolehkan keberadaan “barang milik umat” jadi kalo mau minjem barang temen sekosan/sekontrakan/seasrama ga usah bilang2, asal ga rusak. he.he.

    kalo etika komentar di blog orang ada ga ya? :p
    belakangan saya sering merasa jangan2 dah ga bener kasih komentar di blog orang lain😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s