cooking

Masak…. dibilang hobi, ngga juga. Soalnya saya tidak menekuni memasak dan meluangkan waktu khusus untuk masak. Mungkin lebih tepat dikatakan senang saja. Ya, saya senang memasak ^^

Pertama kali mulai masak, sebetulnya kebetulan saja. Saya suka ikut-ikutan kalau ada yang memasak. Ya masak lauk pauk, ya masak kue. Dulu, waktu saya masih tinggal di rumah tante di Sumedang, kami punya pembantu yang masakannya enak (menurut saya). Di akhir pekan, saya sering membantu pembantu saya tersebut memasak di dapur. Yang ada di benak saya adalah, “Bagaimana ya, membuat masakan lezat yang biasa ia buat?” =)

Jadi, awalnya saya hanya penikmat makanan, tetapi lama kelamaan ada rasa ingin tahu mengenai cara pembuatan masakan tersebut.

Kemudian, tiap kali saya pulang ke rumah di Bekasi, saya selalu ingin mencoba mempraktikkan sendiri cara pembuatan masakan tersebut. Dan alhamdulillah disukai oleh keluarga ^^ sehingga setiap saya pulang ke rumah, biasanya tugas saya adalah memasak. Btw, semua orang di rumah saya bisa masak lho.. dan punya spesialisasi keahlian masak masing-masing, termasuk ayah saya (Alm.) dan adik laki-laki saya.

Tetapi, sampai saat itu, saya belum pernah mencoba membuat kue (terutama kue yang di-oven, bisanya hanya beberapa kue yang dikukus aja). Mungkin karena ngga pernah praktik kali ya… jadinya ga yakin bakal berhasil (kan mubadzir kalo gagal =D). Baru berani coba bikin kue kira-kira 4 tahun yang lalu, buat lebaran.

Next, saya juga tidak suka memasak kalau hasilnya belum tentu enak. Ngga pede soalnya. Hehehe… That’s why I prefer asking recipe to my mom instead of buying any recipe book😀 Akibat satu lagi, saya jadi orang yang konservatif dalam hal resep, ga suka modifikasi masakan (takut ga enak). Hahaha….


Chef laki-laki vs perempuan

Teman-teman merhatiin ga, kayanya kalau kita menonton acara panduan memasak, atau kompetisi memasak, mayoritas koki atau tukang masak ternyata laki-laki. Bukan mau mempermasalahkan gender, tetapi hal ini menarik untuk diamati. Memasak oleh banyak orang diidentikkan sebagai kegiatan rumah tangga  di dapur (padahal masak ga harus di dapur, di teras rumah juga bisa =D), sedangkan kegiatan rumah tangga biasanya diidentikkan sebagai “pekerjaan wanita”.

Hal ini benar-benar menjadi bahan diskusi menarik di benak saya. Sama seperti, “Mengapa kebanyakan desainer baju adalah pria? Padahal baju yang mereka desain mayoritas baju wanita” ^^

Akhirnya, menurut analisis saya, memasak itu mirip – bahkan identik – dengan seni ^^ (begitu juga dengan desainer)

Semua orang, tidak terbatas gender, bisa berpartisipasi di dalamnya. Dan sesuai tingkatan seni: penikmat -> pengamat -> pelaku -> pengapresiasi (CMIIW), semua orang juga bisa berperan di masing-masing tingkatan.

Menurut interpretasi saya, penikmat adalah kegiatan menikmati masakan, ya seperti makan biasanya. Pengamat, membedakan salah satu makanan dengan yang lain: enak-tidak enak, pas atau tidak bumbunya, dll. Pelaku, membuat masakan itu sendiri. Dan pengapresiasi, membuat resep masakan sendiri.

Hmmm…saya sih sepertinya baru sampai pelaku. Anda bagaimana? =)

8 thoughts on “cooking

  1. Kalo sekarang.. masak udah jadi kebutuhan. Males masak , berarti bakal ga makan he3x.
    Anyway.. masak emang seru, bener2 bisa bebas berkreasi. I feel the same feeling when I’m cooking, making graphic design, or studying analog IC…

  2. gini-gini saya pernah masak lho!

    tapi ya gitu deh, dibilang enak…gak jelas.

    dibilang gak enak, gak jelas juga.

    Tetapi senang juga kalau ada yang masak rame2 (kalo ada yang hajatan) terus liat gmana bikin kue bolu yang beraneka ragam seneng tuh saya di suasana kayak gitu. Apalagi mikirin makannya..hehe..

  3. @ ju
    yups, agree..
    cooking i just like an art, everybody can do it.
    tapi tergantung juga ju, butuh apresiasi orang lain atau ngga…😀

    kalo saya, masak karena senang kalau masakan saya bisa menyenangkan orang lain juga =)

  4. Kalo saya masih tingkat penikmat. Tapi dalam lingkup yang lebih sempit, saya sendiri, misalnya., saya bisa aja jadi pengamat, pelaku, bahkan pengapresiasi (misalnya coba-coba kombinasi bumbu untuk masakan tertentu untuk makanan yang sudah dihidangkan)

  5. @ fitri
    kayanya ngga deh, tapi emang saya juga melihat:
    laki2 masak -> untuk hobi, profesi
    perempuan masak -> memang tuntutan rumah tangga, ujung-ujungnya dia cuma masak ya apa yang mau dimakan di rumah, jadi cenderung kurang kreatif..

    Hehe….cuma hipotesis…

  6. gin, kalo kita ngga punya seni, susah dong belajar masak^^’ effort harus besar, haduh.

    tapi emang bener gin, apalagi kalo udah sampai profesional, biasanya yg megang itu ya laki2.. apa karena ujung2nya perempuan lebih mendedikasikan diri di rumah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s