parents and networking

Parents, for me, are my sources of networking.

Kedua orang tua saya adalah orang yang selalu menjaga silaturahim dengan orang lain. Dulu, sebelum saya kuliah, hal itu tidak banyak berpengaruh pada saya. Bahkan saya cenderung heran. “Kok orang tua saya hobi banget ketemu orang ya?

Kedua orang tua saya adalah orang yang luwes dalam bergaul. Jujur, tidak seperti saya. Bahasa yang mereka kuasai juga banyak. Dulu, waktu masih kecil, saya sempat bingung (dan emang gatau), sebenarnya orang tua saya ini suku apa. Ayah dan Ibu saya, kalau menyapa tukang sayur, pakai bahasa jawa dan sunda (tergantung pedagangnya orang mana). Ibu saya kalau belanja ke pasar baru atau tanah abang, pakai bahasa minang. Ayah dan Ibu saya sering ngobrol dalam bahasa Inggris. Ayah saya sering ngobrol dalam bahasa Arab dan baca buku-buku berbahasa Belanda.

Satu lagi kebiasaan kedua orang tua saya: sering bertamu dan ditamui. Dulu, ketika masih kecil, setiap lebaran, kami selalu berkunjung ke rumah Pakde Luthfi (A. M. Luthfi, ex wakil ketua MPR). Saya dulu tidak tahu Pakde dan Bude Luthfi itu siapa, yang saya tahu rumah mereka enak, ada kolam renang dan ada burung beo yang bisa ngomong “Assalamualaikum”. Sehari dalam seminggu, ada saja waktu ayah saya mengajak ke rumah saudara. Entah sekadar berkunjung, makan gado-gado, metik jambu, apa saja pokoknya (dan dulu biasanya kami malas ikut).

Mahasiswa abah dan mama juga sering berkunjung (bahkan sampai sekarang). Terkadang bikin kesal karena mereka seperti “merebut” orang tua kami. Tapi sering senang juga karena mereka biasanya bawa oleh-oleh dan setiap lebaran dapat kiriman parsel bejibun. Untuk abah, malam hari adalah waktu untuk tetangga. Setiap malam, ada saja tetangga atau saudara yang berkunjung ke rumah. Ngobrol tentang politik, islam, ngobrolin nanem pohon, apa saja. Biasanya sampai jam 11-an malam.

Saya tidak pernah ngerti apa manfaat dari semua itu.

Tapi sekarang… saya rasakan semua manfaatnya. Saya sampai bingung, waktu mau pindah sekolah ke Bandung, “Kemarin om fulan dan ibu fulanah nawarin tinggal di rumahnya aja”. Waktu mau KP “Ke om ini aja, dia sekarang dirut perusahaan itu. Atau om ini aja, GM-nya Schlumberger, dst..dst..”. Atau pas mau nyari S2, “Coba kontak Om Syamil atau Om Supriyadi di US, atau Prof Salim di UKM, atau bla..bla..bla…”. Memang, semua link itu tidak bisa digunakan secara instan. But can you imagine, how powerful those links are?

Saya sadar, kedua orang tua saya telah meninggalkan footprints (trace – kalo kata mama) yang baik di mata orang-orang. Dan saya yakin, sebuah silaturahim akan berbuah sesuatu yang manis.

Terima kasih, Ma, Bah…

– saya yang sedang belajar bersilaturahim –

5 thoughts on “parents and networking

  1. eh… apa ya…
    ada yang janggal…
    komen saya ini nanti langsung dihapus saja.

    “Parents, for me, is my sources of networking.”

    walaupun sepele, tapi khawatir banyak yang baca, mungkin sebaiknya begini:

    “Parents, for me, are my sources of networking.”

  2. @ anis

    hehe… kayanya banyak bedanya gHina dan mama. gHina kurang luwes bergaul =P

    mommy wannabe : both of them ^^
    atau menjadi ibu yang seperti mama? =P

  3. iya, gHina emang keknya mirip mama, dan bakal terus mirip mamanya, termasuk dalam hal silaturahim juga…

    btw… mommy wannabe itu “mau jadi ibu” atau “mau jadi kek mama”? ehehe

  4. great parents bear great childs…
    gHina juga pasti bisa kaya mereka

    jangan lupa, kewajiban anak adalah menjaga silaturahim dengan kawan-kawan orang tuanya

    selamat bersilaturahim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s