cerita dari bromo – surabaya trip (part 2)

lanjutan dari bagian pertama

 

Perjalanan menuju Gunung Bromo pun dimulai. 

Dari terminal Bratang, kami naik sebuah bis menuju terminal Bungurasih untuk melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Ongkos dari terminal Bratang ke Bungurasih sendiri tidak terlalu mahal, sekitar IDR 3,500. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 30-40 menit (kami sampai sekitar pukul 12.30 WIB) 

Sesampainya di terminal Bungurasih, masuk dengan membayar uang peron IDR 200 dan langsung menuju lajur bis yang menuju Probolinggo. Atas rekomendasi seorang teman yang berdomisili di Surabaya dan berdasar hasil pencarian kami di internet, kami naik bis AKAS ASRI yang menuju Jember (tapi melalui terminal Probolinggo). Bis AC ini cukup nyaman dan tarifnya pun cukup murah - hanya IDR 14,000 sampai di Probolinggo -padahal perjalanan yang ditempuh lumayan jauh. 

Perjalanan dari terminal Bungurasih ke terminal Probolinggo memakan waktu kira-kira 3 jam. Alhamdulillah perjalanan berjalan sangat lancar (atau tidak ya? soalnya kami banyak tertidur selama perjalanan :p) dan kami tiba di terminal Probolinggo pukul 3 sore lebih sedikit. Alhamdulillah, karena menurut informasi yang kami dapat, elf menuju Cemoro Lawang hanya ada sampai pukul 4 sore. 

Elf menuju Bromo sendiri ngetem di luar depan terminal. Setelah keluar gerbang terminal, langsung ada seorang calo yang menarik-narik kami. “Bromo..Bromo..”, katanya. 

“Tau aja kami mau ke Bromo”, pikir saya. 

(yaiyalah, soalnya kami bawa-bawa ransel dan sebuah koper kecil sih, sangat khas turis =P

Sambil berjalan menuju elf, saya sempatkan bertanya pada si calo mengenai tarif menuju Cemoro Lawang dan waktu yang harus ditempuh. Dia menjawab bahwa tarif elf (atau taksi – begitu masyarakat lokal menyebutnya) adalah IDR 25,000 dan perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 jam. Hmmm…sepertinya tarifnya cukup sesuai dengan hasil penelitian kami dari internet. Berarti dia jujur :) 

Sesampainya di elf, ternyata baru ada 3 orang (dari total kapasitas tempat duduk 15 0rang) yang berada di dalam. Dan elf ini tidak akan berangkat sebelum penuh. Padahal hari-hari non weekend ini tidak terlalu banyak yang berkunjung ke Bromo. Woooow…sepertinya akan menunggu cukup lama =P 

Setelah menuggu lebih dari 1 jam, akhirnya elf berangkat juga. Tidak penuh, tapi akhirnya si supir menyerah dan berhenti ngetem. Hihi.. Wisatawan yang berangkat saat itu hanya 5 orang, 2 wisatawan domestik (yaitu KAMI :D) dan 3 orang wisman. Sisanya adalah penduduk lokal yang menuju Cemoro Lawang atau sekitarnya. 

Perjalanan menuju Cemoro Lawang berlangsung selama hampir 2 jam. Pemandangan yang kami lihat miriiiip sekali dengan pemandangan dari Bandung menuju Lembang :D Dan suhu semakin lama semakin dingin. Jalanan yang dilewati cukup “gila”: berkelok-kelok, sempit (pas-pasan untuk 2 mobil), dengan banyak tanjakan curam. Untungnya si supir cukup lihai. Hehe. 

Kami sampai di Cemoro Lawang kira-kira pukul 18.00 WIB. Tadinya, kami berniat survey penginapan dengan harga oke dan fasilitas lumayan. Tetapi pada pukul 18.00 di Bromo ternyata sudah sangat sepiii dan gelap. Akhirnya kami mengambil pilihan pada penginapan terdekat, Cemara Indah. Sebenarnya kami sudah pernah dapat info mengenai penginapan ini. Untuk kamar standar, harga IDR 100,000 untuk satu tempat tidur dan IDR 250,000 untuk 2 tempat tidur. Sebenarnya kami berniat mengambil kamar tipe pertama (dalam rangka murah dong, namanya juga backpacker), tapi setelah tahu untuk tipe pertama ini kami akan dapat kamar mandi luar…jadi mikir dua kali deh.  Well, akhirnya kami memutuskan mengambil yang agak mahalan ;) 

Berhubung saat itu bukan weekend (beginning of weekdays malah, heuheu), jadi agak susah untuk cari teman sharing sewa jeep. Sedangkan kalau sewa untuk berdua jatuhnya jadi mahal (harga yang tertera IDR 275,000/jeep). Untungnya si pengelola penginapan menawarkan kami untuk share jeep dengan wisatawan lain seharga IDR 90,000/orang (penumpangnya ada 6 orang, jadi lumayan buat pemilik jeep, sewa jeepnya hampir 2x lipat harga normal kalo sewa sendiri). Kami akan dibangunkan pukul 3 pagi, dan pukul 03.30 kami harus sudah siap di depan penginapan. 

Setelah urusan bayar-membayar selesai, kami yang kelaparan bertanya dimana kami dapat memperoleh makan malam. Kebetulan saat itu cafetaria di penginapan di-book oleh rombongan wisatawan lain, sehingga tidak menyediakan service untuk tamu lain. Akhirnya, dari arah penginapan, kami berjalan turun ke bawah sedikit, dan mencari warung yang masih buka. Oia, di Cemoro Lawang ini cepat sekali gelap (mungkin karena kabut jadi terlihat gelap?) dan cuacanya pun cepat sekali menjadi dingin (kira-kira dinginnya sama seperti Lembang deh). Dan sepertinya, kehidupan disini berakhir lebih cepat dari normal *yaiyalah, normalnya Jakarta soalnya :p*. Pukul 6 sore terasa seperti diatas jam 8 malam, dan warung-warung pun rata-rata sudah tutup. Beruntung ada sebuah warung yang masih buka dan menerima order mie rebus dan nasi goreng kami :D 

Selesai makan, kami kembali ke penginapan dan karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi (no-TV, guys! =P), kami hanya menyiapkan baju untuk besok hari dan segera tiduuuurrr :) 

Pukul 3 pagi, kami dibangunkan dan bersiap menuju pananjakan dan Bromo. Yeeeahh…we’re coming!! :) 

Sampai di depan jeep pukul 03.30 dan langsung naik untuk menjemput peserta yang lain. Sayangnyaaa…peserta yang lain (yang ternyata bule-bule semua itu) lambaaaaat banget. Akhirnya kami baru berangkat menuju penanjakan pukul 4 lewat dan udah mulai sunrise. . Huhuuu…

Well, people said that picture worth thousand words. Then just please see it for yourself =)

welcome to Bromo :)

 akhirnya jaket HME berguna juga =P 

The Mighty Bromo

The Mighty Bromo

  

Sunrise in Bromo

  

We @ Bromo

Next…lanjut ke Kawah Bromo =)

waaa....tangganya banyak amaaatt

 

capeek...capeeek.. tapi harus semangat! :D

kawah Bromo yang masih aktif, sayangnya kurang jelas fotonya.

pemandangan dari puncak Bromo. Beautiful, isn't it? :)

naik kuda ah biar ga cape :p

Our tour ended at 8 am, it was a short but yet very enjoyable trip! =)

And when we got back to our hotel, we just realized that the view of Bromo is absolutely great from there :D

having our breakfast with Bromo as the background :D

 See? deket banget ke Bromo kan? =)

Setelah itu kami segera bersiap-siap membersihkan diri dan barang-barang untuk pulang. Untuk turun menuju Probolinggo, kami naik taksi yang sama seperti saat menuju ke Cemoro Lawang. Menurut informasi dari kondektur sehari sebelumnya, ada tiga jadwal keberangkatan taksi dari Cemoro Lawang, yaitu pukul 9.30, 12.00, dan 15.30. Kami mengambil jadwal paling pagi karena masih harus menempuh perjalanan ke Bandara Juanda, Surabaya untuk pulang dengan pesawat pukul 15.30 (it ended up delayed to 18.00).

Ketika kami sudah mau check out, ternyata pemilikpenginapan menawarkan kami ikut di mobil carteran wisatawan asing, dengan tarif yang sama (IDR 25,000). Wow, lumayan jadi tidak usah nunggu taksi yang ngetem. Kami sampai di terminal Probolinggo pukul 11 lewat sedikit. Dari situ, kami naik bis kembali menuju Terminal Bungurasih. Sayangnya, kami naik bis bukan AKAS ASRI, bus non-AC tapi dengan tarif lebih mahal dari AKAS ASRI yang AC (IDR 22,000/orang) -_-

Sampai di terminal Bungurasih sekitar pukul 2 siang. Kami langsung menuju tempat bus bandara untuk menanyakan jadwal keberangkatan. Ternyata, DAMRI ke Bandara Juanda dari Terminal Bungurasih cukup banyak, berangkat tiap 15 menit sekali. Tenang deh… Dan karena jadwal keberangkatan kami ditunda agak sore, kami masih sempat makan dan berbelanja sedikit oleh-oleh (lagi) di kawasan terminal =)

Oia, ada yang lucu saat kami ada di terminal. Terminal Bungurasih ini cukup OKE, menyediakan hiburan organ tunggal di tengah tempat tunggu penumpang. Nah, ceritanya, saat itu sedang ada hiburan lagu dangdut (no joget lho, penyanyinya juga pakaiannya sopan), tiba-tiba ada ibu-ibu yang pakaiannnya agak lusuh dan bawa bawaan kadus maju ke tengah dan joget dangdut sendirian disana. Wew! Si ibu ini kayanya kurang lurus pikirannya (tapi pas selesei joget kelakuannya normal kok) atau mungkin mengidap dangdut-mania (semacam kleptomania) kali ya? Hihihi… *sorry, no picture available =P*

Dan perjalanan menuju Bandara dari terminal ternyata cukup cepat, sekitar 20 menit saja dengan tarif bus IDR 15,000/orang.

Sampai sini, petualangan kami di Surabaya secara resmi berakhir. Alhamdulillah, cukup puas dengan perjalanan yang singkat tapi sangat berkesan ini.

See you in our next trip!! :D

4 thoughts on “cerita dari bromo – surabaya trip (part 2)

  1. Hi Nadia, sama-sama, u’re welcome =)
    You are from Kuala Lumpur? I have some relatives there in Kampung Baru and Setiasari. Happy vacation then, semoga sukses perjalanannya. Enjoy Bromo! =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s