…thought

•January 11, 2010 • Leave a Comment

Dalam hidup saya yang masih bau kencur ini, saya menemukan orang-orang non-muslim yang berkata/berperilaku sangat sesuai dengan tuntunan islam.

Di lain pihak, banyak saya temukan muslim yang berkata/berperilaku jauh dari tuntunan islam, bahkan dengan terang-terangan menentang tuntunan islam.

Apakah gerangan?

Tidak ada lagi yang bisa saya katakan selain bahwa Islam adalah agama yang universal

…dan hidayah itu adalah milik-Nya yang Dia berikan pada orang yang dikehendaki-Nya.

Ya Allah, karuniakanlah kami hidayah-Mu..

QS Al-An’am:32

•January 11, 2010 • 1 Comment

Bismillah

Barusan baca postingan ini,tiba-tiba saya teringat salah satu ayat Al-Qur’an, Surat Al-An’am ayat 32

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Jadi banyak-banyak istighfar, astaghfirullah…

Tahun 2010 ini saya sedang berusaha menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Dua hal yang sedang saya galakkan pada diri sendiri adalah shalat tepat waktu dan menghindari tayangan infotainment di televisi. Infotainment? Ya. Karena tayangan itu membuat hati jadi kotor dan gelap (dan haram – mau ada fatwa atau tidak, saya mengharamkannya untuk diri sendiri). Keduanya masih saya usahakan.

Doakan semoga usaha saya dilancarkan dan berlanjut dengan resolusi-resolusi lainnya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Aamiin..

January 1st 2010

•January 1, 2010 • 10 Comments

Nasi hangat, sayur lodeh, ayam goreng, ikan asin, tahu-tempe goreng, sambal terasi

PERFECTO! ;)

Mau? :D

the last day of 2009

•December 31, 2009 • 1 Comment

Assalamualaikum.. Good morning.. Ohaiyo.. =)

Hari ini tanggal 31 Desember 2009. Surely this is the last day of 2009.

So many things happened this year, which I could commemorate as milestones of my life. My first job in KBR (with a very comfortable and strategic cubical =P), knowing many new and great friends, my involvement in IMPACT, two vacations, and the biggest one is: a beloved husband =)

Then this year is such a blessed year for me.

Dan di penghujungnya, saya ingin meminta maaf atas semua kesalahan dan hal-hal yang tidak berkenan yang saya lakukan selama tahun 2009 (dan sebelumnya). Semoga Allah swt mengizinkan kita bertemu di tahun depan sebagai pribadi yang lebih baik. Aamiin =)

 Ya Allah, terima kasih atas segala rahmat dan kasih sayang-Mu selama ini. Bimbinglah kami menjadi hamba-Mu yang lebih baik dan tetapkanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Sesungguhnya hanya kepada-Mu lah kami memohon. Aamiin.

it happens!

•December 24, 2009 • 4 Comments

terinspirasi dari postingan ini dan obrolan sama teman-teman kerja kemarin..

Believe me, that thing happens!! Hihihi

Well, not exactly the same actually. Often, when a man ask a woman about her preferencies, she would say “up to you”. But IN FACT, she has had her own preferency so that her “up to you” is not exactly an up to you. She would reject all the options you (you, guys) offer that are not her preferency and the decision is often back to her “unsaid” preferency. Weird, isn’t it? hihi.

So, what’s the use for all those discussions and ”up to you” answers then??? Well, I tell you, women really ARE complicated. hihihihihi…

Men are from Mars, Women are from Venus.

Wanita dan pria memang seringkali punya pandangan mengenai suatu hal yang membuat perilakunya sulit dimengerti oleh the opposite gender.

Contoh kecil yang kemarin saya dan rekan-rekan kerja bicarakan adalah mengenai hobi belanja. Kalau saya berbelanja, saya akan “menjelajah” seluruh isi toko (bahkan toko yang sebelahnya juga kali ya) untuk melihat apakah ada good stuff disana. Seringkali tidak dibeli, hanya window shopping saja. Menurut saya, hal ini tidak masalah.

Di lain pihak, suami saya suka bete melihat “kelakuan” saya ini. Dia suka segan kalau melihat-lihat barang (apalagi sampai dicoba) kemudian tidak jadi dibeli. Dan laki-laki juga cenderung malas datang ke satu toko, bertanya tentang suatu barang, kemudian tidak jadi membeli. Seorang teman malah berkata, dia sangat nyaman berbelanja di BEC (Bandung Electronic Center-red) karena disana biasanya list harga sudah tertempel di depan toko, sehingga ia tidak perlu masuk dan menanyakan harga di dalam.

Padahal menurut saya (dan sepertinya mayoritas wanita), kita tinggal bilang, “Oh, lihat dulu saja ya, Mbak. Terima kasih”. Kemudian tersenyum manis dan berlalu. Beres deh. Hihihi..

Well, sepertinya wanita dan pria memang diciptakan berbeda supaya hidup ini ada dinamikanya. Tapi seperti kata Pak Armein, kalau suami-istri sudah hidup bersama untuk beberapa waktu, lama-lama mereka akan bisa saling memengerti maksud masing-masing bahkan tanpa perlu berkata-kata. Hehe..so sweet.. =)

cerita dari bromo – surabaya trip (part 2)

•December 22, 2009 • Leave a Comment

lanjutan dari bagian pertama

 

Perjalanan menuju Gunung Bromo pun dimulai. 

Dari terminal Bratang, kami naik sebuah bis menuju terminal Bungurasih untuk melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Ongkos dari terminal Bratang ke Bungurasih sendiri tidak terlalu mahal, sekitar IDR 3,500. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 30-40 menit (kami sampai sekitar pukul 12.30 WIB) 

Sesampainya di terminal Bungurasih, masuk dengan membayar uang peron IDR 200 dan langsung menuju lajur bis yang menuju Probolinggo. Atas rekomendasi seorang teman yang berdomisili di Surabaya dan berdasar hasil pencarian kami di internet, kami naik bis AKAS ASRI yang menuju Jember (tapi melalui terminal Probolinggo). Bis AC ini cukup nyaman dan tarifnya pun cukup murah - hanya IDR 14,000 sampai di Probolinggo -padahal perjalanan yang ditempuh lumayan jauh. 

Perjalanan dari terminal Bungurasih ke terminal Probolinggo memakan waktu kira-kira 3 jam. Alhamdulillah perjalanan berjalan sangat lancar (atau tidak ya? soalnya kami banyak tertidur selama perjalanan :p) dan kami tiba di terminal Probolinggo pukul 3 sore lebih sedikit. Alhamdulillah, karena menurut informasi yang kami dapat, elf menuju Cemoro Lawang hanya ada sampai pukul 4 sore. 

Elf menuju Bromo sendiri ngetem di luar depan terminal. Setelah keluar gerbang terminal, langsung ada seorang calo yang menarik-narik kami. “Bromo..Bromo..”, katanya. 

“Tau aja kami mau ke Bromo”, pikir saya. 

(yaiyalah, soalnya kami bawa-bawa ransel dan sebuah koper kecil sih, sangat khas turis =P

Sambil berjalan menuju elf, saya sempatkan bertanya pada si calo mengenai tarif menuju Cemoro Lawang dan waktu yang harus ditempuh. Dia menjawab bahwa tarif elf (atau taksi – begitu masyarakat lokal menyebutnya) adalah IDR 25,000 dan perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 jam. Hmmm…sepertinya tarifnya cukup sesuai dengan hasil penelitian kami dari internet. Berarti dia jujur :)  

Sesampainya di elf, ternyata baru ada 3 orang (dari total kapasitas tempat duduk 15 0rang) yang berada di dalam. Dan elf ini tidak akan berangkat sebelum penuh. Padahal hari-hari non weekend ini tidak terlalu banyak yang berkunjung ke Bromo. Woooow…sepertinya akan menunggu cukup lama =P 

Setelah menuggu lebih dari 1 jam, akhirnya elf berangkat juga. Tidak penuh, tapi akhirnya si supir menyerah dan berhenti ngetem. Hihi.. Wisatawan yang berangkat saat itu hanya 5 orang, 2 wisatawan domestik (yaitu KAMI :D ) dan 3 orang wisman. Sisanya adalah penduduk lokal yang menuju Cemoro Lawang atau sekitarnya. 

Perjalanan menuju Cemoro Lawang berlangsung selama hampir 2 jam. Pemandangan yang kami lihat miriiiip sekali dengan pemandangan dari Bandung menuju Lembang :D Dan suhu semakin lama semakin dingin. Jalanan yang dilewati cukup “gila”: berkelok-kelok, sempit (pas-pasan untuk 2 mobil), dengan banyak tanjakan curam. Untungnya si supir cukup lihai. Hehe. 

Kami sampai di Cemoro Lawang kira-kira pukul 18.00 WIB. Tadinya, kami berniat survey penginapan dengan harga oke dan fasilitas lumayan. Tetapi pada pukul 18.00 di Bromo ternyata sudah sangat sepiii dan gelap. Akhirnya kami mengambil pilihan pada penginapan terdekat, Cemara Indah. Sebenarnya kami sudah pernah dapat info mengenai penginapan ini. Untuk kamar standar, harga IDR 100,000 untuk satu tempat tidur dan IDR 250,000 untuk 2 tempat tidur. Sebenarnya kami berniat mengambil kamar tipe pertama (dalam rangka murah dong, namanya juga backpacker), tapi setelah tahu untuk tipe pertama ini kami akan dapat kamar mandi luar…jadi mikir dua kali deh.  Well, akhirnya kami memutuskan mengambil yang agak mahalan ;)  

Berhubung saat itu bukan weekend (beginning of weekdays malah, heuheu), jadi agak susah untuk cari teman sharing sewa jeep. Sedangkan kalau sewa untuk berdua jatuhnya jadi mahal (harga yang tertera IDR 275,000/jeep). Untungnya si pengelola penginapan menawarkan kami untuk share jeep dengan wisatawan lain seharga IDR 90,000/orang (penumpangnya ada 6 orang, jadi lumayan buat pemilik jeep, sewa jeepnya hampir 2x lipat harga normal kalo sewa sendiri). Kami akan dibangunkan pukul 3 pagi, dan pukul 03.30 kami harus sudah siap di depan penginapan. 

Setelah urusan bayar-membayar selesai, kami yang kelaparan bertanya dimana kami dapat memperoleh makan malam. Kebetulan saat itu cafetaria di penginapan di-book oleh rombongan wisatawan lain, sehingga tidak menyediakan service untuk tamu lain. Akhirnya, dari arah penginapan, kami berjalan turun ke bawah sedikit, dan mencari warung yang masih buka. Oia, di Cemoro Lawang ini cepat sekali gelap (mungkin karena kabut jadi terlihat gelap?) dan cuacanya pun cepat sekali menjadi dingin (kira-kira dinginnya sama seperti Lembang deh). Dan sepertinya, kehidupan disini berakhir lebih cepat dari normal *yaiyalah, normalnya Jakarta soalnya :p*. Pukul 6 sore terasa seperti diatas jam 8 malam, dan warung-warung pun rata-rata sudah tutup. Beruntung ada sebuah warung yang masih buka dan menerima order mie rebus dan nasi goreng kami :D  

Selesai makan, kami kembali ke penginapan dan karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi (no-TV, guys! =P), kami hanya menyiapkan baju untuk besok hari dan segera tiduuuurrr :) 

Pukul 3 pagi, kami dibangunkan dan bersiap menuju pananjakan dan Bromo. Yeeeahh…we’re coming!! :)  

Sampai di depan jeep pukul 03.30 dan langsung naik untuk menjemput peserta yang lain. Sayangnyaaa…peserta yang lain (yang ternyata bule-bule semua itu) lambaaaaat banget. Akhirnya kami baru berangkat menuju penanjakan pukul 4 lewat dan udah mulai sunrise. . Huhuuu…

Well, people said that picture worth thousand words. Then just please see it for yourself =)

welcome to Bromo :)

 akhirnya jaket HME berguna juga =P 

The Mighty Bromo

The Mighty Bromo

  

Sunrise in Bromo

  

We @ Bromo

Next…lanjut ke Kawah Bromo =)

waaa....tangganya banyak amaaatt

 

capeek...capeeek.. tapi harus semangat! :D

kawah Bromo yang masih aktif, sayangnya kurang jelas fotonya.

pemandangan dari puncak Bromo. Beautiful, isn't it? :)

naik kuda ah biar ga cape :p

Our tour ended at 8 am, it was a short but yet very enjoyable trip! =)

And when we got back to our hotel, we just realized that the view of Bromo is absolutely great from there :D

having our breakfast with Bromo as the background :D

 See? deket banget ke Bromo kan? =)

Setelah itu kami segera bersiap-siap membersihkan diri dan barang-barang untuk pulang. Untuk turun menuju Probolinggo, kami naik taksi yang sama seperti saat menuju ke Cemoro Lawang. Menurut informasi dari kondektur sehari sebelumnya, ada tiga jadwal keberangkatan taksi dari Cemoro Lawang, yaitu pukul 9.30, 12.00, dan 15.30. Kami mengambil jadwal paling pagi karena masih harus menempuh perjalanan ke Bandara Juanda, Surabaya untuk pulang dengan pesawat pukul 15.30 (it ended up delayed to 18.00).

Ketika kami sudah mau check out, ternyata pemilikpenginapan menawarkan kami ikut di mobil carteran wisatawan asing, dengan tarif yang sama (IDR 25,000). Wow, lumayan jadi tidak usah nunggu taksi yang ngetem. Kami sampai di terminal Probolinggo pukul 11 lewat sedikit. Dari situ, kami naik bis kembali menuju Terminal Bungurasih. Sayangnya, kami naik bis bukan AKAS ASRI, bus non-AC tapi dengan tarif lebih mahal dari AKAS ASRI yang AC (IDR 22,000/orang) -_-

Sampai di terminal Bungurasih sekitar pukul 2 siang. Kami langsung menuju tempat bus bandara untuk menanyakan jadwal keberangkatan. Ternyata, DAMRI ke Bandara Juanda dari Terminal Bungurasih cukup banyak, berangkat tiap 15 menit sekali. Tenang deh… Dan karena jadwal keberangkatan kami ditunda agak sore, kami masih sempat makan dan berbelanja sedikit oleh-oleh (lagi) di kawasan terminal =)

Oia, ada yang lucu saat kami ada di terminal. Terminal Bungurasih ini cukup OKE, menyediakan hiburan organ tunggal di tengah tempat tunggu penumpang. Nah, ceritanya, saat itu sedang ada hiburan lagu dangdut (no joget lho, penyanyinya juga pakaiannya sopan), tiba-tiba ada ibu-ibu yang pakaiannnya agak lusuh dan bawa bawaan kadus maju ke tengah dan joget dangdut sendirian disana. Wew! Si ibu ini kayanya kurang lurus pikirannya (tapi pas selesei joget kelakuannya normal kok) atau mungkin mengidap dangdut-mania (semacam kleptomania) kali ya? Hihihi… *sorry, no picture available =P*

Dan perjalanan menuju Bandara dari terminal ternyata cukup cepat, sekitar 20 menit saja dengan tarif bus IDR 15,000/orang.

Sampai sini, petualangan kami di Surabaya secara resmi berakhir. Alhamdulillah, cukup puas dengan perjalanan yang singkat tapi sangat berkesan ini.

See you in our next trip!! :D

Happy birthday, my love..

•December 16, 2009 • 6 Comments

Hari ini adalah hari ulang tahun suamiku tersayang yang ke-25 (seperempat abad usiamu sudah, sayang =)).

Tentu saja, aku ingin sekali membuat hari ini jadi hari yang sangat istimewa untuknya. Cukup lama aku memikirkan apa yang akan kulakukan untuk hari spesialnya ini: awalnya aku ingin memanjakannya sepanjang hari (misalnya dengan memasakkan masakan istimewa), tapi nampaknya kurang memungkinkan karena hari istimewanya kebetulan adalah hari kerja.

So, i decided just to do whatever i can do to make him happy (-er) ^^

I have an idea to give him a present, and the present must be the useful one for him. Lama juga mikir, akhirnya keingetan bahwa sepatu suamiku itu sudah agak-agak lama dan sepertinya perlu di-upgrade (maklum, suamiku itu baik setengah mati sama orang lain tapi pelit setengah mati kalo beli barang untuk diri sendiri =P). Awalnya mau membeli sepatu itu sendiri secara sembunyi-sembunyi. Tapi karena takut malah ga cocok dan ga kepake (ukuran sepatu kan suka beda-beda standar tiap merek, jadi ga yakin) dan memang karena kemana-mana kami selalu bareng (jadi ga sempat belanja curi-curi =P), akhirnya aku “culik” suamiku ke edward forrer Bandung untuk memilih sendiri. Jadi ga surprise dong?? Gapapalah…yang penting suamiku suka dan sepatunya kepake.  [PS: tapi akhirnya aku berhasil membungkus sepatu itu dengan kertas kado secara sembunyi-sembunyi. hihi..]

Secondly, karena hari ini hari spesial dan karena suamiku baru pindah kantor dan belum nemu tempat sarapan yang oke di sekitar kantor barunya, I made him a delicious yet full of love sandwich for his breakfast =D

And finally, I got an idea to send him a surprise birthday cake. Kebetulan pada hari ulang tahunnya akan ada rapat internal departemennya, jadi aku “berkomplot” dengan salah satu teman kerjanya untuk membawakan kue ke ruang rapat. Tapi ternyata surprise-nya kurang berjalan lancar karena si toko kuenya agak telat mengirimkan kue (well, I consider 1.5 hours late as ‘agak telat’). Dan bodohnya akuuuuu….di form pemesanannya aku memberi nomer HP suamiku sebagai recipient’s contact. Paginya sudah diganti jadi temennya suamiku itu sih, tapi ujung-ujungnya si toko kue tetap menelpon suamiku waktu mau mengantarkan order. Oh tidaaaaakkk…

Tapi alhamdulillah suamiku bilang dia seneng banget sama surprise (setengah sukses) itu =D

Alhamdulillah… =)

Happy birthday to you, honey..

Semoga Allah swt selalu marahmatimu, melindungimu dengan kasih sayang-Nya, dan memberikan kebahagiaan dalam hidup dan di kehidupan setelahmu..

Dan aku bersyukur menjadi istrimu.. =)

With love,

istrimu

cerita dari bromo – surabaya trip (part 1)

•December 1, 2009 • 7 Comments

we (me and my hubby) made a short trip to bromo 3 weeks ago. it’s not a so-professional trip (like the one you get using a travel agent), but it’s not that backpackers-style either. it’s just OUR STYLE. haha

enjoy, semoga bisa bermanfaat :)

it was all starts from our friend wedding invitation in Surabaya. me and friends decided to attend the wedding in a group (plus i have an obligation to hand over the wedding trophy. hehe). but since it would be a quite far and costly trip, we did not want to waste the chance and made it a holiday trip too. xixixixi

i have always dreamt visiting the mighty mount bromo, a land above the cloud (negeri diatas awan – considering Katon Bagaskara’s song). i saw pictures of Bromo through a calendar, internet and it was just too bad to miss. then we decided to extend our vacation to visit Mount Bromo =)

my friend’s wedding would be on Saturday, Nov 7 2009 at 7 pm. so we took the Saturday morning flight to Surabaya. two of our friends have made an itinerary of our journey in Surabaya and the schedule was very strict yet tempting :D *thanks to Monica and Yadi*

our flight was using AirAsia and we bought the ticket (about 2 months before) for IDR 274K. the schedule was initially at 06:50 am, but we have been informed that the flight was delayed to 8:00 am. in the end, we ended up departed at 10:00 am. what a delay, huh?? buuuut… all the delay was paid off when we got the e-gift voucher for IDR 500K each a week later. hihihi :D  the voucher played an important role to our next trip to Malaysia and S’pore (i’ll post the story later) =P

We arrived in Surabaya at approximately 11:20 am. due to the lateness, we only got the chance to pass on Suramadu bridge – we should pay IDR30K everytime we enter the bridge, then it’s IDR 60K on return trip. we stopped in the middle of it to take some pictures there – even though we knew it was actually forbidden =P

yeaay...menginjak tanah Madura :D

then we went straight to the hotel to clean up and change clothes for the wedding.

unfortunately…..we only got two rooms (one for the ladies and the other for gents) to clean up and everybody was insisted to have a bath, we were LATE to the akad nikah (oh please be reminded of our main objective in Surabaya =P).

therefore, while waiting for the Resepsi we went to the Sampoerna House (free enterance). yups, the one that own the biggest cigarette factory in Indonesia! the house told us the history of Sampoerna family and cigarette factory. it was a very very beatiful house and a sooooo cozy cafe they got there

in front of Sampoerna House

next, Putri’s wedding (finally! =P)

Putri & Andie's wedding

next, we were headed to Foodfiesta (or foodvaganza??) near ITS campus (also near the new Al-Azhar International School – i went there with my mom in my last visit to Surabaya). not much to tell here.

Later, we went back to the hotel and some of my friends were having their trip to Bromo that night. They rented a car and have a 12-hours trip and catching the flight back to Jakarta on the next day (on Sunday) - well, we prefer the “more backpacker” way. Early on Sunday, we went to Pasar Genteng to bought some gifts to bring home *it’s not “some”, actually. we bought BOXES of things =P*

Next, we had a trip to Tugu Pahlawan and ice cream on Zangrandi

ga mirip ya? :p

Later on, we separated from others in Terminal Bratang to continue our trip to Terminal Bungurasih (Purabaya) to start our journey to Bromo =)

to be continued..

we do need time alone

•October 30, 2009 • 3 Comments

Sebenernya ini postingan terinspirasi dari waktu lunch gw hari ini. Ceritanya, tadi gw kelewatan mesen makan siang ke OB. Karena males ngerepotin dua kali dgn ngontak via telpon karena OB-nya udah ngider (canggih kan..bisa pesen lewat telpon :p), gw memutuskan untuk turun ke bawah dan beli lunch sendiri.

Ternyata asyik lho..menyusuri jalan sendiri, sambil menyegarkan diri setelah tertidur di kubikal sblm lunch time *td malem begadang, dan gw baru nyadar di lift kali di muka ada garis-garis bekas tidur :p*. Sambil siul-siul menuju tukang nasi goreng. Dan ada kesempatan sedikit-sedikit ngobrol dengan tukang nasgor-nya. Hehe

Bayangin kalau selalu lunch bareng temen, kemungkinan dapat kesempatan ngobrol sama tukang nasi gorengnya pasti kecil banget. Secara pasti ngobrolnya sama temen-temen. Abis itu suka nyebelin karena ngeberisikin kubikal atau tempat makannya. Hihihi.

So, we DO need time alone, sometimes. Just to enjoy ourselves and involve more with the world =)

Perahu Kertas – review

•October 30, 2009 • 7 Comments

Pas lagi browsing-browsing BukuKita.com, gw tertarik pada salah satu judul buku yang yang ada di deretan “buku terlaris”. Yup, perahu kertas. Judulnya yang agak “childish” membuat gw membayangkan sutu bacaan yang ringan, segar, bersemangat. Dan melihat pengarangnya, Dewi Lestari aka Dee, gw yakin bahwa buku ini ga akan jadi “sekadar novel” doang.

Sejak baca buku Dee yang “Filosopi Kopi”, gw langsung jatuh cinta dengan cara Dee bercerita (gw ga berani baca yang Supernova. hihi). Gaya bahasanya lugas, pakai bahasa yang baik tapi ga kaku. Metafornya tepat sasaran. And she proves that — again – in Perahu Kertas =)

Cover buku Perahu Kertas

'Perahu Kertas by Dee"

 

Bercerita tentang Kugy sang juru (dan penulis) dongeng dan Keenan sang pelukis dengan mimpi-mimpi mereka. Betapa mereka begitu yakin akan cita-cita mereka. Walaupun harus “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”. 

Pertama, semua cerita mengenai mimpi, cita-cita, memang selalu menggugah, inspiratif dan ga pernah basi. Mengapa? karena semua orang pasti memiliki mimpi atau cita-cita (pasti, walaupun sekecil apapun. Ayo ngaku!! Hehe). Tapi ga semua orang berani (dan berkesempatan) mengejar dan mewujudkan mimpi tersebut. Dan setiap cerita mengenai perjuangan untuk mengejar mimpi itu selalu menarik untuk disimak. Menggerakkan “hasrat mimpi” kita sendiri yang mungkin tidak (atau belum bisa terwujudkan sehingga membuat hati kita jadi termotivasi.

*fenomena ini juga yang terjadi di Tetralogi laskar Pelangi, gw rasa*

Cerita ini ringan, sehari-hari banget, tapi bukan berarti dangkal — tolong jangan bandingkan dengan cheeklit-cheeklit itu ya. Di dalamnya ada inspirasi, di dalamnya ada mimpi =)

Kedua, alur ceritanya yang mengkuti kehidupan sang tokoh utama (Kugy dan Keenan) membuat gw merasa dekat dengan para tokohnya — apalagi setting-nya banyak di Bandung. hehehe. Akibatnya, gw jadi ikutan terpengaruh oleh dinamika ceritanya. Sama kaya dulu waktu baca komik Harlem Beat yang gw dan saudara-saudara gw suka banget. Si tokohnya sedih kita nangis, dan scene lucu selalu berhasil bikin kita terpingkal-pingkal.

Dan lebih oke-nya lagi, Dee membuat banyak istilah-istilah yang merepresentasikan dunia Kugy dan Keenan, diluar dunia nyata yang biasa. Ketika istilah-istilah itu dimunculkan, kita langsung “nyambung” dan merasa berada satu dunia dengan di tokohnya itu. Istilah-istilah itu antara lain: Alien, Radar Neptunus, dan tentu saja… Perahu Kertas itu sendiri.

Cerita yang kaya gitu itu yang menurut gw bagus, yang bisa membuat si pembacanya “terhanyut” =)

Ditunggu karya bagus lainnya, Dee =)

Info tambahan: gw namatin buku 444 halaman ini ga nyampe sehari, hari kerja pula (kasian suami gw yang gw cuekin di bis. Maaf ya, sayang..). Sepertinya akan mencoba membaca karya-karya Dee yang lain juga =)